Minggu, 07 November 2010

MEMBUDAYAKAN MENULIS MELALUI MADING

Dewasa ini pemerintah aktif mengampanyekan tentang budaya membaca dan menulis di kalangan masyarakat Indonesia. Tetapi hal tersebut tidak dibarengi dengan tindakan nyata. Hal itu dapat terlihat dari masih banyak fasilitas publik seperti perpustakaan yang masih kurang memadai, sehingga tidaklah mengherankan jika sebagian besar masyarakat Indonesia tidak mempunyai minat untuk mengunjungi perpustakaan untuk membaca.
Untuk dapat membuat membaca dan menulis menjadi suatu budaya, maka hal tersebut haruslah ditanamkan pada generasi muda mulai saat ini. Hal itu dapat dimulai pada usia dini yakni usia Sekolah Dasar (SD). Selama ini masyarakat Indonesia terbiasa dengan budaya mendengarkan dan bertutur. Bukan hal yang mudah merubah mainset masyarakat Indonesia dari mendengarkan ke membaca maupun dari bertutur ke menulis. Untuk dapat mewujudkan masyarakat Indonesia berbudaya membaca dan menulis diperlukan peran aktif dari semua pihak terutama institusi pendidikan.
Sebagai contoh di kecamatan tempat tinggal saya, sebagian besar SD tidak mempunyai perpustakaan, sebagian lagi mempunyai perpustakan tetapi buku dan literaturnya sudah tidak relevan lagi dan ada beberapa SD sudah mengelola perpustakaannya dengan baik. Minimnya fasilitas perpustakaan pada tataran SD tidak harus dijadikan kendala untuk membentuk dan mewujudkan masyarakat Indonesia berbudaya membaca dan menulis. Salah satu solusi yang dapat diambil misalnya dengan mengaktifkan ekstrakulikuler majalah dinding (ekskul mading) di tataran SD. Di kecamatan tempat tinggal saya misalnya, dari SD yang ada, tidak lebih dari 20% yang mempunyai mading aktif (layak baca) selebihnya mempunyai mading pasif (tempat madingnya saja).
Peran ekskul mading seringkali dipinggirkan, bahkan dilupakan. Padahal jika ditelaah lebih dalam mading mempunyai peran penting dalam menumbuhkan budaya membaca dan menulis. Mading sekolah dapat dimanfaatkan untuk : Praktikum mata pelajaran bahasa indonesia. Sebagai contoh, di kelas lima, siswa diajarkan tentang teknik dasar melakukan wawancara dengan narasumber. Hasil dari wawancara dan penyusunan naskah terbaik dapat dimuat di mading, sehingga siswa telah mengaktualisasikan teori ke dalam praktek yang sebenarnya.
Contoh lain siswa diajarkan tentang penyusunan prosa, puisi dan pantun. Penyusunan prosa, puisi dan pantun terbaik dapat ditampilkan di mading sekolah. Sehingga siswa lebih termotivasi untuk menulis dalam sisi akademik maupun kreatifitas. Cara lain adalah dengan menugaskan siswa untuk menelaah suatu karangan atau bacaan yang ada didalam mading sekolah. Melalui cara-cara tersebut diharapkan siswa tertarik untuk membaca dan membiasakan diri untuk berkreasi menulis sehingga siswa tidak jenuh belajar tentang Bahasa Indonesia yang ada didalam buku pelajaran saja.
Dengan demikian diharapkan siswa lebih mudah menyerap materi pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Mading juga sebagai media belajar nonformal yang dapat menambah pengetahuan siswa tentang khasanah bahasa indonesia, mengasah kemampuan berbahasa indonesia yang baik dan benar, sebagai wadah kreatifitas siswa. Tidak hanya siswa yang dapat menulis di mading, peran aktif guru juga diperlukan untuk memotivasi siswa agar lebih aktif dalam berkarya. Materi dalam mading tidak harus tentang hal-hal yang berhubungan dengan pelajaran bahasa indonesia di sekolah, tetapi dapat juga berupa pengetahuan umum, misalnya tentang isu perubahan iklim, masalah sosial di masyarakat, perkembangan iptek dan lain-lain.
Mading dapat juga digunakan guru sebagai media komunikasi nonverbal dalam menanamkan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat, dengan demikian mading dapat berfungsi sebagai media transformasi ilmu pengetahuan diluar pelajaran di sekolah dari guru kepada murid. Dengan digandengnya ekskul mading dalam kegiatan di sekolah dan sebagai praktikum mata pelajaran bahasa indonesia secara tidak langsung siswa ”dipaksa” untuk terbiasa membaca dan menulis di mading. Sehingga diharapkan hal tersebut dapat merangsang keinginan siswa untuk membaca dan menulis di kemudian hari.
Hal tersebut di atas dapat terjadi jika peserta didik dilatih untuk mengelola mading secara mandiri dengan pendampingan guru untuk memberikan bimbingan, masukan maupun kritik. Dengan membiasakan siswa membaca dan menulis sejak usia dini diharapkan dapat menumbuhkan budaya membaca dan menulis pada generasi Indonesia dimasa yang akan datang. Mewujudkan masyarakat Indonesia berbudaya membaca dan menulis dapat terealisasi jika ada peran aktif dari semua pihak terutama institusi sekolah maupun instansi terkait.


SUATU ketika Anda membaca berita atau artikel di suratkabar yang menurut Anda penuh kesalahan dan kepalsuan.
Apakah Anda:
1. Merasa jengkel, lalu menceritakannya kepada teman-teman Anda dengan penuh kekesalan, umpatan, dan caci-maki?
2. Langsung menyalakan komputer dan menulis surat pembaca atau artikel tanggapan dan dikirimkan ke redaksi suratkabar tersebut, atau sekadar untuk dimuat di mading, buletin, atau majalah sekolah.

Jika jawaban Anda nomor 1, Anda hanya bisa “curhat” kepada teman-teman Anda yang tentu saja terbatas jumlahnya. Kalah banyak dengan jumlah pembaca suratkabar yang memuat berita/artikel tersebut. Anda belum melakukan “perlawanan” seimbang.
Jika jawaban Anda nomor 2, tindakan Anda tepat. Berarti Anda menggunakan Hak Jawab, yaitu hak pembaca, seseorang atau sekelompok orang, untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan nama baiknya, atau Hak Koreksi, yaitu adalah hak setiap orang untuk mengoreksi atau membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain. Kedua hak itu diberikan, dijamin, oleh UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, sehingga media massa wajib memuat tanggapan atau koreksi pembaca itu.
Namun ada masalah. Ketika Anda tidak merasa puas dengan hanya merasa jengkel dan “curhat”, lalu mencoba langkah nomor 2, Anda tidak bisa menuliskan apa-apa. Yang ada di kepala, tiba-tiba hilang begitu Anda menatap monitor komputer Anda –tidak selancar ketika Anda berbicara dengan kawan-kawan Anda. Lalu, apa yang harus dilakukan?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar