Aku

Aku
Bidadariku..

Rabu, 28 Juli 2010

GAYA BAHASA DALAM PUISI

Gaya Bahasa dalam Puisi

Pada puisi, majas sangat penting untuk memberi andil dalam membangun konsentrasi dan intensifikasi dari sebuah puisi. Seringkali majas dapat membuat sebait puisi menjadi padat dengan makna dan imajinasi serta memberi warna emosi tertentu pada perasaan yang mendengarkan pembacaannya.

Gaya bahasa yang sering dipakai dalam sebuah puisi adalah sebagai berikut.
a. Personifikasi, yaitu gaya bahasa yang membuat suatu benda mati bertingkah seperti manusia. Contoh: - Pucuk-pucuk teh yang menggeliat
b. Metafora, yaitu gaya bahasa yang membuat suatu benda tidak
mempunyai sifatnya yang biasa, melainkan sifat yang lain.
Contoh: -Batang usiaku sudah tinggi
c. Pengulangan, yaitu penjajaran beberapa kata, frasa, atau kalimat yang
sama.
Contoh: - Tak perlu sedu sedan itu
d. Hiperbola, yaitu gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang
berlebihan dengan maksud untuk memperhebat, meningkatkan kesan,
dan daya pengaruh.
Contoh: - Pekik merdeka berkumandang di angkasa
e. Litotes, yaitu kebalikan dari hiperbola, yaitu mengecilkan atau
mengurangi keadaan yang sebenarnya.
Contoh: - Aku bukanlah manusia yang berada
f. Ironi, yaitu gaya bahasa yang menyatakan makna yang bertentangan
dengan maksud untuk mengolok-olok.
Contoh: - Bagus benar kelakuanmu, adikmu kau pukuli

Menulis puisi berarti menciptakan, mengekspresikan seluruh ide/ gagasan dan pikiran, serta menggunakan pilihan kata (diksi) yang tepat sehingga indah dibaca dan dimaknai. Untuk itu, kamu perlu memerhatikan teknik penulisan puisi berikut.
a. Diksi, yaitu pilihan kata yang biasa digunakan penyair dengan cermat dan seteliti mungkin.
b. Daya bayang, yaitu kemampuan melihat, mendengar, dan merasakan isi yang terdapat pada puisi.
c. Gaya bahasa atau pigura bahasa, yaitu cara yang diungkapkan oleh penyair untuk menciptakan dan membangkitkan daya bayang dengan gaya bahasa, gaya kiasan, dan gaya simbol sehingga makna yang diungkapkan semakin jelas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar